Quantum Vision (Belajar Dengan Alam dan Manusia yang Telah Mengalami Quantum Leaps)

Ketika orang berpikir bahwa elektron adalah sebuah partikel titik kecil yang padat dengan massa dan muatan tertentu, mereka tidak memahami fenomena quantum leap ( loncatan kuantum) yang dilakukan oleh elektron.  Apakah itu quantum leap ?  Bayangkan seorang melempar bola-bola tenis ke dinding secara berulang-ulang. Pengalaman inderawi kita tentu mengatakan, bola-bola tersebut tentu akan terpantul kembali. Kemungkinan lain, bila pelemparan tersebut teramat keras (dengan tenaga Pukulan Peremuk Tulang, Chinmi, Kungfu Boy atau dengan tenaga Tapak Budha, Sembilan Benua, Tapak Sakti) dinding akan jebol dan bola tenis dapat melewati dinding tersebut. Agak sulit dibayangkan dengan apa yang kita anggap sebagai “akal sehat”, bahwa bola dapat melewati dinding, sedangkan baik dinding maupun bola dalam keadaan utuh.  Mungkinkah ini terjadi ?  Mekanika klasik menjawab : tentu tidak. Namun, Fisika Modern khususnya Mekanika Kuantum, memberikan jawaban yang positif  terhadap pertanyaan ini. Dan inilah yang disini kita sebut dengan nama “Quantum Leaps “ . Dalam terminologi probabilistik, rumusan Erwin Schrodinger  ( yakni persamaan Schrondinger)  yang terkenal mengatakan bahwa “ probabilitas bola dapat menerobos dinding tanpa keduanya terluka tidak nol, walaupun teramat kecil “ . Adalah Ivar Giaever dan John Fisher yang mencoba untuk menyaksikan kebenaran quantum leaps ini dalam alam elektron. Agar diperoleh probabilitas yang tinggi, digunakan elektron yang kecil dan jumlahnya teramat banyak. Sedangkan yang merepresentasikan dinding dalam eksperimen mereka adalah lapisan isolator yang tebalnya tidak lebih dari 10 mm diantara di antara dua metal. Dan terbuktilah fenomena  quantum leaps.

Adalah hal yang menarik untuk dicatat bahwa baik Ivar  Giaever ataupun John Fisher bukanlah ahli fisika eksperimental yang sudah berpengalaman. DR Giaever adalah insinyur mesin yang bekerja di General Electric, yang kemudian tertarik untuk belajar fisika. Sebuah koran di Oslo menuliskan “ Master in billiards and bridge, almost flunkd physics-gets Nobel prize”, ketika DR. Giaever menerima hadiah nobel untuk penemuannya. DR Giaever sendiri menambahkan, ia tidak hanya jatuh dalam fisika, pada saat kuliah, namun juga dalam matematika. Cerita Giaever ini bisa menjadi suatu model buat kita, bagaimana seseorang yang kuliahnya tersendat-sendat dan kurang mengerti fisika dapat memenangkan hadiah nobel, hanya karena pandangan optimisnya dan pengembangan naluri instink keingintahuan yang tidak kenal lelah dan tidak kenal waktu. Keputusan yang diambil oleh Giaever saat mengambil Ph.D course dalam fisika pada usia tiga puluhan ternyata membawa hasil. Ia mengalami pula quantum leap,  menerobos jajaran teratas hirarki para fisikawan dunia dan menggondol nobel. Satu persoalan kecil buat kita, bagaimana proses terjadinya quantum leap,  sehingga ia benar-benar bisa menjadi kenyataan ? Dan apakah kita termasuk makhluk –makhluk yang beruntung mendapat anugerah quantum leap untuk mencapai prestasi kemanusian tertentu hingga kita bisa memberikan manfaat pada human kind dan humanity ? Ini adalah suatu pertanyaan penting yang mengawali filosofi Quatum dalam belajar yakni apa yang diperlukan oleh manusia, sebagaimana bagian-bagian alam lain yang telah mengalami quantum, agar dapat mengalami quantum dalam pengetahuan, kemampuan dan sikap hidupnya ?  Pertanyaan selanjutnya, bagaimana agar seseorang, setelah mengalami pendidikan yang mengaktualisasikan potensi dirinya  melakukan quantum, benar-benar dapat melakukan terobosan-terobosan dan loncatan-loncatan ke arah yang benar dan baik dalam lingkungan pekerjaannya ?

Pertama,  belajar dari elektron, semakin kecil sesuatu semakin mudah untuk melakukan terobosan quantum. Belajar dari DR. Giaever, semakin kecil “ego” seseorang dan semakin kecil “keyakinan” seseorang akan kehebatan dirinya, semakin besar kemungkinannya untuk mengalami quantum. Seseorang yang telah merasa cukup, merasa bahwa dirinya memiliki satu kelebihan ketimbang yang lain akan tertutup dari kemungkinan mengalami loncatan prestasi yang hakiki.

Kedua,  belajar dari penjelasan Richard Feynman tentang fenomena ketidakpastian Heissenberg yang telah dikutip diatas, pandangan bahwa elektron adalah titik partikel yang padat membuat kita bisa memahami fenomena kuantum, tapi bila kita memandang elektron dari awal sebagai suatu fenomena yang bukan titik partikel yang padat  kita akan bisa memahaminya dengan baik. Quantum bukanlah suatu ketidakpastian, ia menjadi ketidakpastian bila kita memandang sesuatu yang mengalami quantum sebagai suatu partikel yang padat dan masif. Bila kita memandang manusia (termasuk diri kita sendiri) hanya dari proses belajar representatif yang rasional, bila kita memandang manusia 100% hanya dari faktor-faktor material dan inderawi, sulit buat kita untuk mengharapkan terjadinya quantum  dalam diri kita. Manusia bukanlah suatu partikel yang padat dan pendiktean-pendiktean setiap saat. Namun, manusia adalah suatu gelombang kemungkinan untuk mencapai hal-hal tertinggi yang bisa dicapai oleh seluruh mahkluk. Suatu lingkungan diskusi yang aman dari celaan, suatu kebersamaan tim yang hangat, sikap-sikap yang memanusiakan manusia dan menghargai prestasi –prestasi individual maupun tim. Itulah syarat-syarat perlu terjadinya suatu loncatan quantum dalam kepribadian seseorang.

Ketiga,  belajar dari Peter F. Drucker tentang “knowledge societies”  dalam buku beliau “ The Post Capitalist Society “ , “ In The knowledge society people have to learn how to learn. Indeed, in the knowledge society subjects may matter less than the students, capacity to continue learning dan their motivation to do so”.  Filosofi quantum yang bisa kita ambil disini yakni  belajar, memang manusia harus belajar terus menerus dan memperbarui diri terus-menerus.  Dan itu adalah instink alamiah manusia, terus maju dan menyempurnakan diri. Mengambil istilah M. Sadruddin dari Shiraz yang dikenal dengan nama Mulla Sadra, seluruh alam maupun manusia selalu mengalami gerakan menyempurna terus-menerus. Adapun dalam gerakan penyempurnaan pengetahuannnya ia mengalami quantum, itu mungkin-mungkin saja. Bahkan, apabila seseorang kembali ke instink naluriahnya sebagai seorang realis yang mengharapkan kesempurnaan, anugerah quantum itu benar-benar akan terjadi.

Maka para pekerja quantum selalu belajar, belajar dan belajar. Selalu menghargai orang lain, menghargai dan menghargai. Selalu menghargai waktu dan menikmati proses belajar. Hingga anda benar-benar akan mengalami loncatan quantum

Sumber : Dimitri Mahayana, Menjemput Masa Depan,  PT  Remaja Rosdakarya,  1999

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s